NEOKLASIK versus ROMANTIK


Sumpah Keluarga Horatius

Jacques Louis David, SUMPAH HORATII (1784)

Setelah melewati masa yang cukup panjang pada zaman Renesans dibawah dominasi Gereja yang berpusat di Roma, dan disusul dengan zaman Rokoko dibawah kekuasaan para Raja dan para Bangsawan, maka kehidupan Senirupa dunia telah memulai babak baru yang  ditandai dengan lahirnya mazhab NEOKLASIKISME yang dipelopori oleh Jacquis Louis David (1748 – 1825) dan mazhab ROMANTIKISME yang dipelopori oleh Theodore Gericault (1791 – 1824 ) yang kemudian di sebut sebagai zaman “Senirupa Modern”.

Kedua aliran ini lahir dan berkembang bersamaan dengan berakhirnya masa feodalisme di Perancis yang  kemudian disusul dengan pecahnya “Revolusi Perancis” pada tahun 1789.

Menurut Prof. Soedarso Sp. MA dalam tulisanya tentang “Sejarah Perkembangan Senirupa Modern”, bahwa  Revolusi Perancis menjadi tonggak diawalinya babak baru yang mana para seniman mulai berani membuat karya-karya yang keluar dari tradisi yang ada.  Runtuhnya kekuasaan Raja atas para Seniman, memberi keleluasaan bagi mereka untuk menemukan hal-hal baru sesuai dengan apa yang ingin mereka ekspresikan  melalui karya-karya mereka.

NEOKLASIKISME

David adalah seorang tokoh seniman lulusan “Akademi Seni Lukis dan Seni Patung Kerajaan” yang pada masa sebelumnya tekun mengikuti kaidah-kaidah akademis pada lukisannya, tiba-tiba melukis hal baru yang berjudul “SUMPAH HORATII” yang dengan segera menjadi populer .  Diambil dari novel “HORATIUS” karangan Cornaille yang menceritakan adanya dua kelompok keluarga yang berhubungan sangat erat karena tali perkawinan, namun  karena  keharusan peperangan, maka mereka terpaksa berpisah.

Lukisan ini menggambarkan sumpah keluarga Horatius dimana sang Bapak berdiri di tengah ruangan sedang mengangkat sumpah 3 orang anaknya yang bergerombol disebelah kiri. Sementara di sebelah kanan, para wanita anggota keluarga dan anak-anak sedang menangis sedih (lihat gambar-1). Jika dilihat secara sepintas, lukisan ini tidak banyak berbeda dengan lukisan-lukisan David sebelumnya, tetapi konsep kreatifnya yang jauh berbeda.   Jika pada karya-karya sebelumnya David sekedar mengikuti tradisi yang ada dengan melukis hal-hal yang sensual, indah yang menjadi kegemaran para raja dan para bangsawan, maka kali ini ia keluar dari tradisi tersebut dan menggarap sebuah tema yang berat, tidak lazim  dan mempunyai tujuan tertentu. Jika pada karya sebelumnya dapat dilihat garis-garis yang lembut, komposisi yang manis serta obyek yang menarik, maka pada Sumpah Horatii ini begitu berbeda, dimana obyeknya begitu dramatis, berat dan tidak menggairahkan, tokoh-tokohnya tidak lembut dan cantik, sementara pencahayaannya begitu tetrikal dan  matematis yang kaku. Sedangkab latar belakang arsitekturnya bergaya doria yang dingin dan sederhana, garis-garisnya lurus, benar-benar sesuai dengan kedinginan suasana dalam seluruh lukisan tersebut.

Yang jelas perbedaanya ialah : pada karya-karya sebelumnya tujuannya semata-mata hanya untuk kenikmatan, tetapi yang ini mempunyai tujuan untuk mendidik, menggugah spirit dan bersifat moralistik. Begitu juga lukisan-lukisan David yang berikutnya seperti : “Kematian Sokrates”, “Kematian Marat”, dan “Para Liktor membawa pulang mayat anak-anak Brutus kepada Ayahnya” benar-benar bercorak klasik dan moralistik. Apalagi setelah David melakukan perjalanan ke Italia dan sempat melihat hasil penggalian reruntuhan kota Pompeii yang menyimpan semua hasil kebudayaan fisik bangsa Romawi mulai dari pisau dapur hingga Tata Kota, sejak saat itu pengetahuan David tentang Seni Klasik menjadi lebih luas, dan bersamaan dengan itu pula kebudyaan dan seni klasik mulai populer kembali ( setelah kepopuleran sebelumnya pada  zaman Renesans). Puncak keklasikan David diwujudkan  dalam karyanya yang berjudul “PEPERANGAN ANTARA ROMA DAN SABINA” (1799), yang ia kerjakan dengan sangat tekun. Namun demikian, sebenarnya pada karyanya “KEMATIAN MARAT” (1793) lah keklasikan David lebih berhasil dicapai.

"Kematian Marat"
J. L. David, “KEMATIAN MARAT” (1793)

Keseriusan David dalam menggarap tema-tema klasik yang rasional dan obyektif mebuat dirinya dianggap sebagai pelopor mazhab baru ini yang kemudian disebut NEOKLASIKISME. Kejayaan David sempat mengalami pasang surut dimana keterlibatannya dibidang politik mengharuskan dirinya masuk tahanan dan kemudian dikeluarkan. Dan dengan munculnya Napoleon pada puncak pemerintahan Perancis, mengakibatkan dirinya naik ke puncak lagi menjadi “PREMIER PEINTER DE I’EMPEREUR” dengan karyanya  al. “LE SACRE” yaitu Penobatan Napoleon tahun 1805 yang berukuran 518 cm x 929 cm. Kejatuhan Napoleon juga berdampak pada diri David yang juga  diasingkan ke Belgia sampai akhir hayatnya, setelah selama 32 tahun menguasai kehidupan seni di Perancis. Sepeninggal David, mazhab Neoklasik diteruskan oleh para penganutnya antara lain JEAN AUGUST DOMINIQUE INGRES (1780-1867).

Mazhab David yang pada dasarnya menyatakan bahwa pelita seni itu adalah terangnya Ratio, tidak selamanya benar, karena pada akhirnya disadari bahwa tidak semua persoalan itu bisa diterangi dengan rasio, tetapi perlu melibatkan hati nurani serta perasaan. Tokoh Perancis yang bernama Jean Jacques Rousseau yang kemudian mengajak kembali ke alam, manusia tidak boleh hanya mengandalkan emosi dan pikiran saja, tetapi harus juga dengan hati nurani dan perasaan. Pribadi-pribadi inilah yang kemudian muncul dan melahirkan mazhab Romantikisme.


ROMANTIKISME

Jika Neoklasik bersandarkan pada rasio/akal-pikir, maka Romantikisme justru sebaliknya, ia bersandar pada hati dan perasaan sehingga kedua aliran ini seolah-olah bertentangan atau berlawanan. Namun demikian sebenarnya pergolakan ini sudah mulai mengusik batin seorang bekas  murid David yang bernama Gros, dimana ia mempunyai pemikiran untuk membebaskan diri dari pengaruh David. Walaupun lukisan-lukisannya senada dengan pendahulunya itu, namun unsur-unsur romantiknya sudah mulai nampak pada karyanya yang berjudul “KOLONEL SARLOVERE” (1812), yang mana posenya cukup manis, latar belakangnya dramatis dan sapuan kuasnya yang luwes, yang demikian itulah ciri-ciri gaya romantik. Lukisan Gros yang lain yang lebih romantik al. adalah ; lukisan yang menggambarkan kunjungan Napoleon ke sebuah rumah sakit kusta, dimana disitu digambarkan bahwa Napoleon seolah olah seperti Jesus yang sedang menyentuh para penderita, sementara latar belakang lukisan dibuat sedemikian detail sehingga tampak gambaran yang begitu romantis.

Walaupun romantisme sudah menggejala pada karya-karya Gros, namun pandji-pandji Romantikisme baru ditancapkan  pertama kali oleh seorang murid dan sekaligus penganut David yang bernama THEODORE GERICAULT dengan karyanya “RAKIT MEDUSA” (1818).

Saat itu, Gericault baru saja kembali dari Roma,  masyarakat Perancis sedang ramai membicarakan skandal yang berhubungan dengan tenggelamnya Kapal transport “Medusa” (1816) yang tenggelam di dekat pantai barat Afrika dan ditinggalkan begitu saja oleh para petugas menggunakan sekoci.  Sedangkan para penumpang yang berjumlah lebih dari seratus orang menyelamatkan diri dengan sebuah rakit, yang kemudian diketahui hanya tinggal 15 orang yang selamat dan yang lainnya telah meninggal. Suasana inilah yang ingin digambarkan oleh Gericault dalam karyanya. Karena ia ingin mengabadikan peristiwa tersebut dengan tepat maka untuk menggali bahan yang dibutuhkan ia perlu meminta bantuan pada seorang korban yang masih hidup, dan untuk merekonstruksi kondisi/suasana tragis itu ia meminjam mayat dari rumah sakit untuk ditempatkan di atas rakit sebagai model.

Rakit Medusa
Theodore Gericault, RAKIT MEDUSA (1818)

Setelah pada tahun 1819 dipublikasikan, lukisan tersebut membuat sensasi yang luar biasa. Walaupun lukisan tersebut sangat indah, namun yang menimbulkan sensasi bukan karena keindahannya, tetapi karena aktualitasnya. Hal ini jelas sekali bahwa, lukisan tersebut dibuat berdasarkan getaran perasaan  haru dan  sedih yang luar biasa yang oleh sang seniman ingin dibagi kepada masayarakat bahwa sesungguhnya banyak persoalan yang mesti mendapatkan perhatian, yang mana persoalan-persoalan tersebut tidak hanya menyangkut kemewahan dan keindahan yang ada di dalam kerajaan dan lingkungan para bangsawan saja, tetapi lebih jauh adalah masalah ketidak adilan bagi masyarakat kebanyakan. Maka jika kita cermati, yang nampak dalam lukisan ini adalah sebuah kondisi yang tragis dimana mayat-mayat telanjang berserakan di latar depan, sementara terlihat beberapa orang melambaikan tangan untuk memberi isyarat permintaan pertolongan, sedangkan pada latar belakang nampak langit yang berawan kelam sehingga benar-benar melukiskan suasana yang sangat dramatis. Sama sekali tidak ada unsur-unsur keindahan dan kenikmatan hidup yang ingin disuguhkan oleh sang pelukis. Bahkan sebagian masyarakat mengkritisi bahwa lukisan ini dinilai terlalu vulgar dan sensasional, namun masyarakat yang lain tidak terpengaruh oleh penilaian tersebut. Bahkan sensasi lukisan ini sempat membawa berkah bagi Gerticault saat dipamerkan di Inggris, yang mana dari tiket masuk saja ia dapat meraup banyak uang.

PEMAHAMAN YANG BERBEDA

Dari uraian tersebut diatas, kita bisa menarik kesimpulan  bahwa pada dasarnya ; Neoklasikisme adalah: visualisasi kembali corak-corak klasik,  sedangkan Romantikisme adalah : pengungkapan yang sama sekali  tidak ada urusannya dengan corak, sebab bagi Romantikisme, kepentinganya hanya sikap batin lah yang melandasi lahirnya sebuah karya, yang oleh sebab itu aplikasinya dapat diproyeksikan pada segala macam gaya, termasuk kedalam corak klasik itu sendiri.  Kendatipun  demikian, memang ada perbedaan konsep yang melandasi masing-masing aliran, dimana Neoklasik dilandasi oleh Ratio, sementara Romantikisme dilandasi oleh hati. Dan setidaknya perbedaan paham itu memang pernah ada walaupun para ahli ingin meniadakanya.

puncak_kasmaran
S.Pandji, “PUNCAK KASMARAN” (2005)

Jika demikian, bagaimanakah  jika lukisan saya  yang berjudul “Bedhoyo Ketawang” , “Bimo Suci” atau “Puncak Kasmaran” saya sebut sebagai gaya “Romantik Klasik” ? Karena menurut saya lukisan-lukisan tersebut memenuhi 2 (dua) hal yaitu “Klasik” pada unsur atau corak yang divisualisasikan, sementara itu “Romantik” berada pada gubahan obyek yang penuh imajinasi maupun dramatisasi pada obyek itu sendiri. Alasan  lain yang  adalah bahwa konsep kreatif lahirnya karya-karya tersebut berdasar pada intelektualitas (rasio) maupun kata hati (perasaan). Jadi, hasil akhirnya adalah ;  gabungan antara hal-hal yang rasional dengan yang irasional, yang matematis dengan yang non matematis, yang realis dengan yang imajiner  dan seterusnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat khususnya bagi para kaum muda yang sedang terlibat/melibatkan diri pada dunia Senirupa.

About these ads

7 Tanggapan

  1. kurang to the point nih, tulis nya simple aja neoklasikisme adalahh….. kalo kyk gini kan orang rada susah ngertinya

    • Terima kasih buat Angela atas kunjungan dan kritiknya. Sebenarnya tujuan tulisan ini bukan untuk menggurui, apalagi bermaksud mengajari para pembaca, tetapi sebagai catatan dan ungkapan tentang apa yang sedang saya pikirkan.
      Memang, ……. perihal madzab karya-seni tidak bisa serta merta dirumuskan kayak hukum archimides dan hal-hal eksak lainnya. Bahkan para pakar seni masih sering beda pendapat, dan seringkali pada setiap Seminar dan lokakarya tentang masalah karya seni, selalu ada catatan dan tidak pernah tuntas. Tetapi okelah, singkatnya adalah : Bahwa “Neoklasikisme” adalah sebuah karya hasil olah pikir (mendidik, mengobarkan semangat, rasionil dll.), sementara itu “Romantikisme” adalah sebuah karya hasil ungkapan perasaan (romantis, dramatis, melankolis dll.)
      Lebih jelasnya, coba kita bandingkan dua buah lukisan : “Sumpah Horati” karya David dan “Pemakaman Atala” karya Girodet. Dimanakah perbedaanya?
      Semoga menemukan jawabanya.

  2. terima kasih ni buat penjabarannya…
    sukses selalu…

  3. mas ijin copy-paste buat tugas sekolah………

  4. Thanks banget!! :D jadi romantikisme dengan neoklasikal tidak ada persamaan nya sama sekali?

    • Betul mas, ….. dari sisi visual memang sulit dibedakan, namun dari sisi konsep melukisnya yang tidak sama karena dilandasi oleh alasan yang berbeda. Terima kasih kunjungannya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: