MENGENAL GENDING JAWA (Bagian – I)

Difinisi Gending

Gending, adalah bahasa Jawa yang berarti : Ahli membuat Gamelan (Alat Musik Tradisional Jawa), atau Lagu yang berasal dari bunyi Gamelan.

Fungsi Gending.

Gending dapat berfungsi untuk berbagai macam pementasan kesenian diantaranya adalah sbb :

  • Sebagai Pengiring Pergelaran Wayang Kulit.
  • Sebagai Pengiring dalam Pementasan (Tari-tarian, Ketoprak dlsb).
  • Sebagai Pengiring Acara Ritual adat Jawa,
  • Sebagai Hiburan Lepas (Kerawitan) dlsb.

GENDING SEBAGAI PENGIRING WAYANG

Sebagai ilustrasi, coba kita lihat skema berikut :

Skema Gending Pengiring Wayang

A. Gending Petalon

Petalon berasal dari kata “TALU” (Jawa) yang berarti “Mulai” atau “Mengawali“, sehingga kata Gending Petalon berarti Gending Pembukaan atau gending-gending untuk mengawali sebuah Acara.

Gending-gending pada bagian ini pada umumnya memuat makna sebagai ungkapan do’a. Misalnya saja :  “Ladrang Slamet” atau juga biasa disebut “Ladrang Wilujeng”. Slamet adalah bahasa Jawa ngoko, dan Wilujeng adalah bahasa Jawa Krama yang dalam bahasa Indonesianya berarti “Selamat”. Jadi di mainkannya Gending tersebut dengan harapan acara yang digelar saat itu dapat berlangsung Selamat, baik pada saat acara berlangsung maupun sesudahnya. Masih banyak lagi Gending untuk Petalon yang mempunyai maksud yang sama misalnya : MUGI RAHAYU (Semoga Selamat), PUJI RAHAYU (Do’a Selamat), SRIWIDODO (Raja/Ratu Selamat) dlsb.

B. Gending pada Babak Pertama (I)

(1) Jejer-I (Jejer Kawitan)

Babak (Episode) Pertama Pementasan Wayang diawali dengan adegan yang dinamai “JEJER – I” atau biasa disebut sebagai “JEJER KAWITAN”.

Untuk mengiringi adegan ini ada beberapa macam Gending yang disesuaikan dengan Raja/Kerajaan mana adegan tersebut. Misalnya untuk kerajaan Hastina (Ngastina) dipakai Gending Kabor. Kabor berasal dari kata Kabur (tidak jelas), yang maknanya adalah :  bahwa apa yang nantinya menjadi topik pembicaraan dalam adegan ini biasanya tidak jelas atau kabur, tidak memiliki visi dan misi yang baik. Sedangkan untuk Kerajaan Amerta (Ngamarta) atau Pendawa menggunakan Gending Kawit atau Kawah. Gending ini bermakna sebagai Awal (Kawit-an) dari rencana (Visi-Misi), sedangkan Kawah yang di maksud disini adalah “tempat untuk menggodog” sesuatu (Visi-Misi) yang pada umumnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan ketentraman dan kesejahteraan rakyat negerinya. Dan masih banyak lagi Gending-gending dan maknanya.

Jika dalam adegan ini harus ada peperangan, maka perangnya disebut sebagai “Perang Rempak” yaitu perang yang tidak berlanjut, karena akan berlanjut nanti setelah melewati beberapa adegan lainnya.

(2) Gending untuk mengiringi datangnya Tamu.

Jika dalam adegan Awal (Jejer-I) ada tamu yang datang maka untuk mengiringi datangnya tamu juga ada gending-gending khusus sebagaimana skema di atas. Semuanya disesuaikan dengan karakter tamu yang akan datang sehingga suasana pergelaran menjadi terasa pas dan penuh filosofi.

(3) Jengkar Kedaton, (4) Limbukan dan (5) Bodolan.

Gending-gending untuk mengiringi adegan-adengan ini secara garis besar sebagaimana skema diatas, namun sebenarnya sangat banyak ragam dan jenis gending-gending yang dapat digunakan, tergantung sifat dan karakter dari adegan serta pelaku dalam adegan tersebut.

(6) Jejer – II (Jejer Sabrangan atau Bondet)

Jejer ke 2 ini disebut sebagai Jejer Sabrangan karena biasanya adegan yang tampil adalah Kerajaan Negeri Seberang.  Seberang yang dimaksud disini adalah “seberang lautan” atau tidak sedaratan dengan Kerajaan pada Jejer I yang konotasinya adalah berada di Tanah Jawa.

Tetapi juga tidak sepenuhnya harus demikian, karena bisa saja pada cerita tertentu Jejer 2 ini adalah kerajaan atau pertapaan (non seberang), misalnya pertapaan Kendalisodo dll. Dan jika demikian halnya, maka Jejeran ini dinamakan “Jejer Bondet”.

(7) Perang Gagal

Perang Gagal adalah peperangan yang terjadi antara Negeri pada Jejer-1 dan Negeri Jejer-2. Disebut Perang Gagal, karena dari peperangan ini Gagal membuahkan hasil, atau dengan kata lain : Visi dan Misi nya Gagal (belum tercapai).

Gending yang digunakan untuk mengiringi adegan ini pada  umumnya adalah : Srempek 6 ,  Kemudo atau Palaran dll.,  yang kemudian diteruskan ke Sampak Pathet 6.

Gending-gending pada bagian ini prinsipnya menggunakan Pijakan  Nada / Nada Dasar atau yang biasa disebut dengan nama “Pathet”, yaitu Pathet Nem (6).

C. Gending pada Babak – II

(1) Goro-goro

Goro-goro, …… adegan ini sebenarnya bukan adegan baku (sesuai pakem), namun  merupakan adegan tambahan guna memberikan tempat untuk kepentingan hiburan dan guyonan. Kalau tidak salah, adegan ini merupakan rekaan Ki Nartosabdo (Almarhum), dan pada adegan ini para Punokawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) bebas bercengkerama sambil menunggu Bendoro (tuan) mereka datang untuk mengajaknya pergi berkelana.

Gending-gending yang digunakan diawali dengan srempek Banyumas-an atau yang lain. Setelah itu baru Gending-gending Dolanan dan juga Gending-gending Jineman tergantung Dhalang dan juga permintaan dari para Penonton.

(2) Jejer – III (Jejer Pandito)

Jejer ke 3 ini disebut Jejer Pandito, karena pada umumnya adeganya adalah sebuah pertapaan (tempat tinggal sang Pandito), misalnya : Begawan Abiyoso sedang dihadap oleh Raden Arjuna dlsb. Untuk adegan ini biasanya menggunakan Gending Lara-Lara, sebuah gending yang sifatnya membuat pendengarnya “Trenyuh”.

Kenapa demikian? ……, ….. ya, ……. karena dalam adegan ini biasanya membahas sebuah solusi terhadap suatu keadaan yang susah, dan meyedihkan. Sang Begawan bertindak sebagai sang Problem Solver yang akan memberi arahan dan petunjuk kepada sang kesatriya (tamunya) bagaimana cara menemukan solusi bagi kesulitan yang sedang dihadapinya.

Masih serangkaian dengan adegan ini, yaitu ketika sang Kesatriya meninggalkan Pertapaan, maka Gending yang mengiringinya biasanya Gending Ketawang Subokastowo atau yang lainnya, yang kemudian diteruskan dengan ayak-ayakan Slendro Pathet 9.

(3) Perang Kembang

Perang Kembang adalah : perang yang keberadaanya hanya sebagai selingan, sisipan (tambahan). Disebut Perang Kembang dimaksudkan hanya sebagai Kembang-an (Hiasan) agar lebih menarik.

Gending pengiring yang umum dipakai pada adegan ini adalah : berbagai jenis Srempek, Palaran dan Sampak pathet 9  atau Pelog Pathet Barang.

Bersambung ke Bagian II …………….

About these ads

33 Tanggapan

  1. sae sanget, matur nuwun kateranganipun

  2. WOW..GREAT…..bagus banget ada pembahasan tentang kesenian jawa, khususnya wayang kulit, saya salah satu pecinta kesenian wayang kulit.terimakasih atas informasinya, matur nuwun….:)

  3. mas saya ingin belajar banyak mengenai gamelan ,wayang ,dsb.dan laman ini sangat membantu saya ,, semoga makin banyak pembahasanya …

    • Terima kasih mas Lutfi, banyak yg ingin kami tulis, tapi masih terbentur waktu. Semoga lebih banyak lagi generasi penerus yang seperti mas Lutfi.

  4. ia . . bagus banget pembahasannya, awalnya tidak sengaja . . iseng saja . . tapi setelah membaca jadi tertarik, cuma kok terputus ya mas . .. ditunggu kelanjutannya, terimaksih

    • Iya mas Nono, ….. saat ini saya lagi konsen membangun sebuah Padepokan yg nantinya juga untuk wadah kegiatan seni-budaya. Tapi doakan mas, insya Allah sebentar lagi akan ada sambungannya. Terima kasih kunjungannya.

  5. Ulasan menarik, teruskan untuk melestarikan budaya jawa

  6. tokoh gending yang banyak membuat gending kawitan siapa ha…
    gaya surakarta??????

    a.G.B.P.H hadiwinoto
    b.K.R.T warsondiningrat
    c.paku buwana
    d.wayan beratha.

    saya tunggu.. :)

    • Maaf mbak Ria, mungkin jawaban saya ini agak terlambat.
      Sesuai dengan apa yang saya ketahui, bahwa Empu Karawitan Warsodiningrat dari Surakarta adalah menciptakan “Notasi Gending” dalam bentuk angka pada tahun 1920 an, jadi bukan menciptakan Gendingnya itu sendiri. Tetapi mungkin saja beliau juga menciptakan beberapa gending, itu yang saya kurang tahu gending apa saja yang diciptakannya. Terima kasih.

  7. Mas, seblm melantunkan gending/langgam kan bbrp ada yg pakai “bowo”, tolong mas dijelaskan bowo itu apa ? Tks atas perhatiannya.

    • Tq atas kunjungannya.
      Bowo ……. adalah sebuah tembang yang dilantunkan oleh seorang “Wirasuara” (pelantun pria) atau oleh “Sinden” (pelantun wanita), dan biasanya hanya diiringi oleh tintingan Gender dan pada saat yg tepat juga gong. Contohnya pada langgam “Ali-ali” yang didahului dengan bowo ber-irama “Dandhanggula”. Irama apapun sebenarnya boleh digunakan, sebagai irama bowo, asalkan jatuhnya tinggi rendahnya nada terakhir dari bowo tersebut sesuai dengan nada terakhir dari sebuah gending/langgam. Misalnya pada gending Gambir Sawit jatuh pada nada 6, dst. nya. Semoga bermanfaat.

  8. Matur nuwun kagem tambah pengalaman sanes wekdal nyuwun dijangkepi suluk saben adekan kados keterangan saking jejeran , limbukan , goro goro lan sak teruse

    • Matur nuwun ugi pak Sukiyo sampun kerso sambang dateng Blog kulo. Insya Allah lintu wekdal cobi kulo pacak Suluk lan odo-odo kados ingkang panjenengan suwun.

  9. senang sekali bs ketemu blog ini krn sy brharap bs mdptkn byk hal ttg pagelaran wyg kulit, sy adlh org yg baru menggemari wyg kulit,sy dkk blm lama bljr memainkn gameln,dtmpt kami (sumatra selatan)ada seperangkt gameln yg dulunya prnh dpake lthn karawitn,tp krn kesibukn org2 tsb sdh tdk brlatih lg,kami brusaha menghidupkn kmbl agar budaya jawa bs ttp lestari walaupn kami hdp dtanah sebrang. kami prnh menghadirkn dalang lokal dg tujuan agr kami bljr mengiringi pementasn wyg dg gending yg sdh dpelajari, permasalahny adlh kami blm mengrti tanda2 yg dberikn dalang utk memulai suatu gending,entah itu melalui ketokan atopun isyarat dr gunungan dll,batas2 antar jejern jg blm ngrti,walaupn sblmnya sdh diajari tp tdk byk yg kami serap. mungkin Mas pandji bs berbagi pengetahuan utk bs mmbantu kami dlm memamahi pagelarn wyg kulit. atas kesediaanya kami ucapkn byk trmkasih.

    • Terima kasih mas Pras atas kunjungannya ke Blog saya. Pada dasarnya kita sama-sama belajar, untuk itu marilah kita giatkan aktifitas kita dalam ikut melestarikan budaya yg adiluhung ini. Insya Allah saya akan berusaha berbagi apa yg saya dapat dan do’akan kita diberi kesehatan sehingga punya banyak kesempatan untuk berbuat yg lebih banyak lagi. Suwun.

  10. bagian 2 mana?

  11. apik tenan pak, bagian 2 nya mana pak.
    tlong lh pak di posting, saya sangat butuh penjelasannya pak.
    maturnuwun pak.
    assalamualaikun Wr.Wb.

  12. ulasan ini bagus sekali, tapi lanjutsnnya mohon dikadih tahu, trimakasih

  13. komentar untuk cakepan sindenan wilujeng yang tertulis mara besan kiranya perlu di cek lagi kalo gak salah yang betul adalah parabe asmara bangun …dst,…kemudian untuk sopo dombo kali oya yang betul adalah sepat domba kali oya (wangsalan) yang tebusannya adalah gurami/gerameh/meh/atau ben….gerameh ora prasaja

    • Matur nuwun mas Eko, atas koreksinya. Jangan sungkan-sungkan kalau masih ada yang perlu dikoreksi.

  14. Pak Panji, salam kenal,…..
    terima kasih atas tulisan Pak Panji….sangat informatif terutama dengan adanya skema sehingga bisa mendapat gambaran yang utuh….Kalau boleh tau apa ada referensi yang atau buku yang bisa saya baca – baca dan bisa dibeli di mana? dan mohon ijin untuk saya copy paste….. matur nuwun…..

    • Salam Kenal P. Herman,
      Terima kasih telah berkunjung ke Blog saya. Memang ……. saya akan sangat bahagia jika tulisan saya dapat memberi manfaat kepada semua orang (khususnya generasi muda) yang ingin memahami tentang Budaya Jawa termasuk Gending sebagai pengiring wayang. Terus terang, sulit untuk menyebut salah satu buku atau tulisan yang menjadi referensi, mengingat tulisan tersebut merupakan kesimpulan dari hasil renungan atas apa yang saya dengar, baik dari para pakar yang sempat berdiskusi dengan saya maupun informasi yang saya dengar dari media seperti Televisi dan Radio. Banyak yang berharap agar saya melanjutkan tulisan tersebut, dan insya Allah saya ingin memenuhi harapan tersebut dan saya akan menulis untuk Blog ini di sela-sela kesibukan saya. Semoga bermanfaat.

      • Pak Panji,….top markotop Pak…..ternyata skema tersebut hasil renungan dan pengamatan Pak Pandji sendiri…. sangat mencerahkan ….saya yang tadinya nggak tau apa2 jadi tau gambaran secara utuh tentang gending – gending dan babak – babak dalam wayang kulit…..saya juga suka uraian babak – babak yang pak Pandji tulis dengan bahasa masa kini sehingga mudah menangkap dan memahaminya…..sebetulnya hal semacam itu yang diperlukan agar budaya kita lebih dekat dan dan dipahami oleh kita sendiri sebagai pemilik budaya tersebut…..
        Pak Pandji ….ngomong – ngomong kok ya kebetulan saya ini wong Kediri….hahaha….ketemu – ketemu di Blog nya Pak pndji…..dunia sempit ya pak….?

  15. Maaf Pak Pandji…ada salah ketik nama Pak Pandji di komen saya di atas…..

  16. Iya pak Herman, ……….. sebenarnya dunia ini hanya sekecil hati kita dan hati kita lebih luas dari dunia ini. Rasanya dimasa tua kita akan lebih bahagia jika sekecil apapun yg kita perbuat dpt memberi manfaat kepada orang lain. Itulah yg menjadi harapan saya. Suwun.

    • Pak Pandji, notasi ladrang wilujeng yang P Pandji cantumkan di atas mengingatkan saya waktu SMP. Dulu waktu di SMP3 Kediri, saya ambil ekskul-nya karawitan, sekarang sedikit – sedikit masih inget nabuhnya ( saya dulu belajar bonang). Setelah SMA saya mulai nggladrah ( nyasar ) denger musik barat…..terus berlanjut dan eksplorasi berbagai musik akhirnya nyatolnya ke musik progressive rock dan musik klasik……tapi kalau dibandingkan temen2 saya , saya masih termasuk kelas ringan….karena waktu itu hobi denger musik ( beli kaset) sempet berbelok ke fotografi yang banyak menyita perhatian……suatu saat di Anjungan Jogja TMII saya hunting foto pergelaran tari. Di situ ada P Boediardjo (alm) yang juga sedang hunting foto….sambil nunggu adegan bagus beliau ini kelihatan menikmati sekali suara gamelan yang diaminkan secara live, bahkan menirukan vocalnya penabuh gamelan/ sinden……saya berpikir..lha saya ini kok gak ngerti apa2….
      Maka saya mulai coba beli kaset gamelan…..kebetulan dapet kasetnya Mandrawanaran….saya stel dan saya dengarkan dengan kacamata musik barat….(hahaha orang jawa aja pakai kacamata musik barat)….saya heran dan terkejut sendiri….justru dengan kacamata musik barat tersebut saya merasakan kaset Mandrawanaran tersebut sangat luar biasa…..sejak saat itu saya ingin mendapatkan gending yang seperti mandrawanaran….tetapi nggak nemu – nemu…mungkin P Panji bisa bantu saya gending apa yang bagus…..saya suka yang ada suara gambangnya…..dulu saya sempet juga belajar Blendrong, Sampak, Ayak – ayak dan sekarang sering ingin dengerin gending tersebut tapi untuk mendapatkan kasetnya atau MP3 belum dapet……..untuk musik gamelan klasik saya sudah berkesimpulan, ini musik luar biasa….nggak kalah sama musik klasik…….Maaf P Pandji agak panjang komen saya….salam.

      • Benar, ……. menurut saya tdk ada musik yg benar-benar menyentuh kalbu seperti Gending Jawa. Saat ini kaset memang sdh jarang kita temui ya…… tapi yg banyak dikemas dlm bentuk CD.

        Gending-gending yg klasik & nglangut/ndudut ati menurut saya ya seperti ONANG-ONANG, PANGKUR ASIH PRONO, SINOM PARIJOTO, KTW. WIGARINGTYAS dlsb yg bisa diunduh dari Internet.

        Semoga segera mendapatkanya. Suwun.

  17. Matur nuwun Pak Pandji atas informasi gending – gending nya…..saya akan coba unduh dari internet……

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: