BEDHOYO KETAWANG

bedoyo

Pada tahun 2000, saat saya dan teman-teman menghadiri sebuah acara sarasehan sastra Jawa disebuah tempat di Jakarta Selatan, saya diperkenalkan oleh mas Edy dengan seorang ibu yang bernama ibu Astuti Hendrato, seorang ibu yang mengenakan pakaian Jawa klasik dengan jarik, kebaya serta sanggul, yang ternyata beliau adalah “dosen luar biasa Sastra Jawa di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI)”. Dalam perbincangan disela-sela acara, terkuak bahwa ternyata beliau adalah salah seorang pelaku tari dari sebuah tari tradisional yang begitu sacral dari keraton Surakarta yang disebut tari “BEDHAYA KETAWANG”. Kebetulan sekali, karena sudah sejak lama saya ingin mengabadikan tarian tersebut dalam sebuah lukisan, namun karena untuk mendapatkan informasi seputar tarian tersebut saya belum menemukan nara sumber yang tepat, maka perkenalan saya dengan ibu Astuti ini seolah-olah menggugah semangat saya untuk segera mewujudkan keinginan saya tersebut.

Buntut dari perkenalan saya ini, akhirnya saya mendapatkan sebuah buku kecil yang berjudul Bedhaya Ketawang yang disusun oleh KGPH. Hadiwidjojo, yang disunting oleh Ibu Astuti Hendrato sendiri dan diterbitkan Tahun 1981 oleh Balai Pustaka .

Foto Ibu Astuti Hendrato dalam keseharian

Yang menarik dari Bedhaya Ketawang adalah bahwa tarian ini adalah bukan tarian yang diciptakan untuk tontonan ataupun hiburan, melainkan tarian yang bersifat Seremonial, dan berlaku aturan-aturan khusus bagi para pelaku serta pihak-pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung.

Adapun aturan-aturan khusus tersebut antara lain sbb;
1. Para penari, penabuh gamelan, pesinden serta para kerabat yang mengikuti jalannya upacara, harus dalam keadaan suci lahir-bhatin dan khusus bagi para penari, mereka harus seseorang yang masih gadis (perawan).
2. Beberapa hari sebelum mengikuti pergelaran, mereka semua harus melakukan puasa terlebih dahulu, dan diakhiri dengan mandi besar.
3. Hari pergelaran harus jatuh pada hari Anggarakasih yaitu hari Selasa Kliwon dalam penanggalan Jawa.
4. Yang boleh mengikuti jalannya pergelaran hanyalah mereka yang masuk dalam status keluarga dan pejabat Keraton dan masyarakat dari luar keraton tidak diperkenankan untuk mengikuti jalannya pergelaran ini.
5. Selama pergelaran tidak diperbolehkan merokok, tidak disediakan makanan dan minuman, dan tidak diperbolehkan berbicara satu sama lain (ngobrol), sehingga kekhidmatan jalannya upacara tidak terganggu.
6.Keluarnya para penari dari Dalem Ageng Prabasuyasa (ruang dalam) menuju Ke Pendopo Ageng Sasonosewoko (tempat pergelaran), adalah dengan cara mengitari Sinuhun (Posisi duduk Raja) dari sebelah kiri memutar kekanan searah jarum jam, begitu juga saat para penari kembali ke Dalem Ageng harus tetap mengkanankan posisi duduk Sang Raja .
7. Dilarang mengumandangkan atau menyenandungkan gending/lagu pengiring tarian ini baik secara vokal maupun dalam bentuk siulan.
Dan masih banyak lagi aturan-aturan lain yang mesti dipatuhi termasuk ragam jenis sesaji dan lain-lain, yang semua itu bertujuan agar terhindar dari hal-hal yang tidak dikehendaki.

Dari berbagai persyaratan dan aturan yang diberlakukan bagi pergelaran Tari Bedhoyo Ketawang, perlu dicermati sejauh mana hal tersebut terkait dengan kehidupan masyarakat pada masa itu dan kehidupan kita sebagai masyarakat global saat ini.

Yang jelas, jauh sebelum berbagai agama hadir di dunia, unsur-unsur budaya telah mempunyai andil yang sangat besar bagi manusia sebagai sarana untuk mencari jati diri, membangun peradaban serta membangun kelompok sosial demi kelangsungan hidup yang penuh kedamaian. Adalah fenomena yang tidak bisa dikesampingkan bahwa unsur kebudayaan akan berubah dan mereposisikan diri sesuai dengan perkembangan zaman dan masanya, namun hakekat dari semua aktifitas budaya adalah merupakan media sosial, alat komunikasi baik secara Vertikal maupun Horisontal (Hablum minallah, hablum minanas).

Lukisan Bedhoyo Ketawang yang saya dambakan sekarang telah terwujud dan telah ikut serta  dalam Pameran di House Of Sampoerna Agustus 2008, dan menjadi pokok bahasan pada acara Talk Show yang menjadi aganda dalam  acara tersebut.
Secuil harapan berkecamuk dalam hati, semoga dengan lukisan ini terpancing sebuah pertanyaan, tercipta sebuah diskusi, tersebar sebuah informasi budaya dan tersirat keinginan dalam hati kita untuk ikut  melestarikan karya seni/budaya adhiluhung khususnya  seni dan budaya tradisional.

Trima kasih mas Edy, matur nuwun ibu Astuti, semoga tulisan ini mempunyai andil dalam upaya ikut melestarikan tari tradisional pada umumnya dan Bedhoyo Ketawang khususnya.

Bedhaya Ketawang

16 Tanggapan

  1. bagus, untuk info generasi muda akan salah satu kesenian jawa yang kaya dengan filosofi nyata atau metafisi ini memberikan wawasan baru buat saya

  2. menarik buat kalangan anak muda seperti saya yang butuh informasi budaya, terutama budaya masyarakat jawa. biar ga jadi ‘wong jowo sing ilang jowone’ saya tunggu posting2 pak lek yang berikutnya….

  3. Harga lukisannya berapa pak?

  4. Wah bagus tuh….mbok bikin lukisan perang tanding antara Antareja musuh Gatotkaca….

    • Trima kasih mas Setya, atas kunjungan serta komentarnya. Tentang lukisan perang antara ANTAREJA dan GATUT KACA sudah pernah kami buat pada tahun 1996, dan lukisannya menjadi koleksi seseorang di Jakarta. Lukisan-lukisan bertema lakon wayang yg pernah saya buat antara lain : Murwokolo (Koleksi alm. Bp. DR. Soedjarwo mantan ketua Senawangi – Jakarta), Arjuna Wijaya (Koleksi Ibu Setyawati – Spiritualis – Jakarta), dan Rahwana Amurka Shinta (Koleksi Bp Mas’ud Thoyib – Menejer Seni Budaya TMII). Tulisan kami yg lain seputar Seni-Budaya dan kehidupan Sosial/Masyarakat dapat dikunjungi di http://www.pandji-arts.blogspot.com. Semoga mas Setya tetap Prasaja.

  5. saya sangat terkesan dengan tarian ini dan saya ingin mengikuti upacara itu jika di perbolehkan

    • Itu berarti masih adanya kecintaan terhadap budaya adhiluhung yang kita miliki. Semoga masih banyak masyarakat kita yang seperti ibu/mbak Selvhi dan mudah-mudahan kita segera mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan tarian tersebut. Tidak lupa, terima kasih kunjungannya.

  6. sugeng ndaluh bpk. S. Pandji..

    saya generasi muda, yang tertarik dgn budaya Jawa, mohon ijin utk menyimak dan mempelajari melalui web bapak..

    nuwun sewu, bpk. Pandji..
    apakah masih contact dengan Ibu Astuti Hendrato?
    terakhir saya mengetahui bahwa Ibu Astuti sudah sangat “sepuh”.
    sampai saat ini saya mencari informasi keberadaan Ibu Astuti, tapi belum mendapat hasil.
    mungkin kalau bpk.Pandji memiliki contact number Ibu Astuti, nyuwun tulung saya di-informasikan..

    Email : galih.apr@gmail.com
    Hp : 0811-168 128
    matur nuwun sanget…

    • Mbak Galih, selamat berkenalan dan terima kasih sudah mengunjungi blog kami. Beberapa waktu lalu saya juga mencoba mencari jejak beliau melalui mas Edy, tapi juga tidak berhasil karena contact number nya tdk aktif. Sementara itu teman-teman yang lain juga menemui jalan buntu. Saya hanya bisa berdoa semoga beliau dikaruniai kesehatan oleh Allah swt. Namun jika suatu saat ada informasi tentang beliau, insya Allah saya akan kontak penjengan. Sekali lagi matur nuwun, semoga perkenalan ini membawa manfa’at.

  7. sugeng siang Pak Pandji…

    matur nuwun.. bapak juga ikut mencari keberadaan Ibu Astuti, kemarin saya juga contact Pak Edy Bakso Malang🙂, belum didapatkan juga info keberadaan Ibu Astuti😦

    rencana-nya saya akan mencari info keberadaan Ibu Astuti di FIB UI, semoga saja ada mengetahui keberadaan Ibu Astuti.

    semoga Ibu Astuti masih diberikan kesehatan oleh Gusti Allah, sehingga kita masih dapat bersilahturahmi dengan beliau, mengingat karya-karya beliau yang luhur… amin

    matur nuwun, pak pandji..🙂

  8. sugeng enjing Pak Pandji,,

    saya sudah mendapatkan informasi dari FIB Sastra Jawa UI mengenai keberadaan Ibu Astuti Hendrato, saat ini beliau sedang bersama putri-nya, Ibu Lulu, di apartemen taman rasuna, jaksel.
    rencana-nya pagi ini saya akan bertemu beliau.
    menurut informasi, ibu Astuti baru sembuh dari perawatan karena Jatuh..
    sekarang, beliau sudah mulai semangat lagi… ^_^

    demikian kabar dari saya,
    matur nuwun

  9. Salam Pak Pandji
    saya masih memiliki naskah awal hasil wawancara yang akan dibuat buku tersebut. Saya rasa ada beberapa hal yang sedikit-banyak diedit pada buku terbitannya. naskah masih berupa ketikan manual dengan beberapa ilustrasi foto Bedhaya Ketawang ASLI hitam putih yang ditempelkan pada naskah tersebut. Salah satu foto menampakkan tarian bedoyo dihadapan Sultan pada saat akhir tarian. Naskah ini bertandatangan ‘kalau tidak salah’ adalah KGPH Hadiwidjojo sendiri bertanggal 11 september 1971 (?1975). Jika ada yang berminat mengoleksi mungkin akan saya pertimbangkan..

  10. saya sangat ingin bertemu dengan pak pandji….. dimana saya bia bertemu beliau?

    • Mas Untung, jika anda tinggal di Surabaya atau kebetulan sedang berada di Surabaya, anda bisa kontak saya di 081.331.047.227 untuk membuat janji kapan kita bisa ketemu. Terima kasih telah berkunjung ke S.Pandji Online.

  11. selamat siang. bolehkah saya menggunakan lukisan ini sebagai ilustrasi tulisan tentang pleiades dan bedhaya ketawang di situs astronomi saya? terima kasih. maaf

    • Maaf mbak Avivah, kok saya terlambat balas, karena baru menyadari kalau ada comments dari mbak. Pada prinsipnya lukisan-lukisan saya boleh dicopy dan digunakan dalam illustrasi ulisan mbak, asalkan dicantumkan sumbernya. Untuk pertanyaan yang lain bisa dilayangkan ke email : s_pandjistudio@yahoo.com. Terima kasih kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: